PEOPLE'S EXPECTATION

Dari dulu di blog gue, gue sering banget nulis satu reminder, bahwa kita jangan terlalu berekspektasi sama orang lain. Karena, nggak semua orang tuh sesuai sama apa yang kita bayangkan. Nggak semua yang kita lakukan atau ucapkan ke orang lain, dan mereka akan melakukan hal yang sama ke kita, no. Not always. Nah tapi kali ini, gue pengen ngomongin soal ekspektasi orang lain ke gue, atau ke kita kalau kalian punya pengalaman yang sama.

Oke, mari kita mulai.

Kalian pernah nggak sih, ngerasa terbebani karena ekspektasi orang-orang ke kalian? Kayak, misalnya orang lain tuh nganggep lu pinter, lu jenius, lu segala bisa. Dan seringkali muncul kalimat-kalimat yang bilang, “Ah, lu kan pinter, pasti ntar dapet nilai 100 pas tes,” atau “Pasti dia juara satu lah, secara dia kan jago dibidang akademik,”

 Gue dan beberapa temen gue berkali-kali dapat perlakuan kayak gitu. Dan gue rasa, kalimat-kalimat itu bukannya mendukung, malah jadi beban buat gue pribadi. Gue jadi khawatir nggak bisa memenuhi ekspektasi mereka yang menurut gue terlalu tinggi. Gue takut pada akhirnya mereka jadi kecewa sama gue.

 Dan sekalinya gue gagal, contohnya waktu itu gue gagal dapet nilai 100 di ujian Bahasa Inggris. Gue rasa respon orang-orang itu makin bikin gue down. Kayak, “Eh, yang bener lu nggak dapet 100? Masa sih?” atau “Kok bisa? Lu kan jago, Ra!”

   Pfft, malu lah gue. Kecewa nya pun jadi double. Yang pertama karena gue nggak dapet nilai 100, dan yang kedua karena orang-orang bilang gitu. Hal ini juga pernah terjadi di lingkup keluarga besar gue. Karena gue dulunya suka ranking 1, jadi banyak yang mikir kalau gue tuh pinter, dan sekalinya gue turun peringkat, waduh. Satu keluarga pada nanyain gue kenapa gue bisa turun ranking.

 Gue yakin beberapa dari kalian pernah ngalamin yang gue alamin. Dan jujur, gue pribadi nggak tau harus kayak gimana, karena gue juga nggak bisa melarang orang lain untuk berekspektasi apapun ke gue.

Padahal, menurut gue, orang yang diekspektasikan tinggi, dia juga manusia. Nggak bisa selalu sempurna. Kadang juga gue merasa, kalau gue nggak sepintar itu. Gue juga kadang-kadang hoki makanya bisa dapet nilai bagus. Serta, mau sejago apapun orang dalam suatu bidang, pasti ada saatnya, dimana dia itu agak turun. Bukan berarti karena dia jadi bodoh, tapi bisa saja ada faktor lain, kayak kecapean, nggak fokus, terhalang fasilitas, dan lain sebagainya. Gue juga pernah mencoba buat bilang, “Plis, jangan terlalu berekspektasi sama gue, gue nggak sehebat itu,”

 Intinya ekspektasi-ekspektasi dari orang lain itu sempet bikin gue stress. Tapi, pelan-pelan gue mencoba untuk nggak terlalu membawanya sebagai beban, walau sulit.

  Sahabat gue beberapa waktu yang lalu pernah bilang,  setiap kali gue gagal, but gue udah berusaha maksimal dan melakukan yang terbaik, tapi pada akhirnya orang-orang jadi kecewa dan mempertanyakan kayak, “Kok bisa sih? Padahal.. bla bla bla

Dia bilang kalau, kekecewaan mereka itu bukan tanggungjawab gue. Itu urusan mereka, karena harusnya mereka nggak berekspektasi setinggi itu.

Dari sini, gue belajar sesuatu. Gue emang nggak punya hak untuk melarang orang lain untuk berekspektasi, terutama ke gue. Bebas-bebas aja orang mau berharap apa. Tapi, gue juga harus inget, kalau gue nggak berkewajiban untuk memenuhi ekspektasi orang lain. Nggak seharusnya juga gue merasa bersalah karena gagal memenuhi harapan mereka, selama gue udah melakukan yang terbaik. Kalau orang-orang masih pada kecewa dan mempertanyakan hal-hal seperti diatas, ya itu urusan mereka karena terlalu berekspektasi.

Segini dulu blog dari gue. Semoga blog gue ini bisa membantu menenangkan teman-teman yang mungkin diekspektasikan tinggi oleh lingkungan sekitarnya. Satu hal yang harus diingat, kewajiban kita adalah melakukan yang terbaik, bukan memenuhi ekspektasi orang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

WHY I MADE A CONTENT?

2022 Recap

When Lo Capek sama Semuanya